Ada pepatah yang mengatakan, “kita tak kan pernah tau apa yang kita miliki sampai kita kehilangannya, tetapi kita juga tak kan tau apa yang belum pernah kita miliki sampai kita mendapatkannya”. Yah, itu benar. Sama persis yang kurasakan sekarang.

Orang bilang cinta itu buta, tapi bagiku cinta justru membukakan mata untuk melihat hal yang tak terlihat. Membuat kita berfikir dengan hati, karena cinta itu tak kan mampu dilogika. Cinta adalah memperhatikan dan memberi, tanpa berharap untuk diperhatikan dan diberi. Mencintai…. bukanlah bagaimana kau melupakan, melainkan bagaimana kau memaafkan. Bukan bagaimana kau mendengarkan, melainkan bagaimana kau mengerti. Bukan apa yang kau lihat, melainkan apa yang kau rasakan. Lalu, apakah yang kurasakan ini cinta?? Bukan. Dan jika kau berpikir aku sedang patah hati karena cinta, itu salah.

Aku dekat dengan seorang cowok. We were close friend. Dia berpikir kami pacaran, karena dia sudah menyatakan perasaannya. Teman dan keluargapun tau hubungan kami. Mereka mendukung. Dia orangnya baik tapi cuek banget, suka musik (just like me ), sopan dan yang terpenting, dia selalu mampu membuatku tertawa. Seharusnya, kisahku ini berakhir bahagia. Yah, seperti kisah dalam putri dongeng, yang hidup bahagia dengan sang pangeran. Should be?

When he said that he fall in love with me, i was so happy, I was so proud, i was surprise and i was speachless. Aku tak memberikan jawaban apa-apa, hanya tersenyum. Dan sejak saat itu, kami jadi lebih dekat. Sering jalan bareng, sering ketawa bareng, sering nyanyi bareng, dan sering curhat ini itu. We were taking care each other.

Meski aku sangat nyaman bersamanya, tapi aku tak pernah mencintainya. Aku hanya sayang dan peduli padanya. Tak pernah kuberikan sepenuh hatiku untuknya. Kuakui, aku terlalu egois. Tapi dia sebaliknya. Dia rela memberikan segalanya untukku. Apapun yang kumau, perhatian, kasih sayang, waktu. Tak pernah sedikitpun ia meminta sesuatu dariku. Yang ia butuhkan hanya teman. Teman sepertiku, yang selalu mendengarkan keluh kesahnya, memberikan perhatian untuknya, mengisi hatinya yang kosong. Yah…setidaknya cuma itu yang bisa kuberikan.

Rasa cintanya membebani ku. Aku selalu diliputi perasaan bersalah. Karena tak pernah bisa memberi cinta yang sama. Hari demi hari, kulalui untuk belajar. Belajar mencintainya. Tapi aku tak mampu. Aku hanya sayang padanya. Mungkin aku…

Aku ingin menghentikan kepura-puraan ini. Dia pantas mendapatkan orang lain. Orang yang benar-benar rela memberikan cinta untuknya. Tapi, harus mulai darimana?? Apa yang harus kukatakan? Bahwa aku tak pernah mencintainya? Ah..itu bukan suatu penjelasan yang cerdas. Haruskah aku melepasnya, atau kubiarkan saja seperti ini? Aku tak ingin membuatnya menderita, tak ingin melukainya.